Thursday, 11 December 2014

PENTINGNYA PERANAN MANUSIA DALAM LINGKUNGAN HIDUP


Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar tempat hidup atau tempat tinggal kita, setiap makhluk hidup akan sangat terpengaruh oleh lingkungan hidupnya, sebaliknya makhluk hidup itu sendiri juga dapat mempengaruhi lingkungannya. Makhluk hidup dan lingkungannya itu mempunyai hubungan sangat erat satu sama lain, saling mempengaruhi lingkungannya. Makhluk hidup dan lingkungannya itu mempunyai hubungan sangat erat satu sama lain, saling mempengaruhi, sehingga merupakan satu kesatuan fungsional yang disebut “ekosistem”.[1]
Banyak para praktisi mempertanyakan adakah Islam memberikan cara pandang yang salah terhadap persoalan lingkungan?[2]

Penciptaan Lingkungan Hidup
Berjuta-juta tahun yang lalu, Allah telah menciptakan alam semesta termasuk bumi dan isinya, yaitu jauh sebelum manusia diciptakan (QS. 2:117). Dimuka bumi Allah menciptakan makhluk berupa tumbuhan yang beraneka ragam dan berbagai jenis hewan sejak yang bersel satu hingga binatang-binatang raksasa. Kini tumbuh-tumbuhan raksasa itu telah punah dan dalam usia jutaan tahun terpendam di dalam bumi.
Setelah kelahiran manusia, muncul jenis-jenis baru tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang disediakan untuk lingkungan hidup manusia agar sejahtera hidupnya. Lingkungan itu perlu diolah dan dimanfaatkan manusia sebaik-baiknya, supaya sesuai dengan maksud Allah menyediakan itu semua. Akal dan budi yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia, ia dapat mengolah bahan mentah yang telah tersedia di bumi, baik dipermukaan bumi, di perut bumi, maupun di dalam lautan dan di dasarnya. Manusia juga disediakan bahan-bahan keperluan hidup yang terkandung di langit.[3]
Peranan Manusia dalam Melestarikan Lingkungan
Lingkungan hidup yang telah tersedia ini diciptakan untuk kepentingan hidup manusia. Tetapi seringkali dalam rangka memenuhi kebutuhannya itu mengabaikan terjaminnya keseimbangan lingkungan. Sementara itu sumber-sumber alam abiotik yang berupa tambang-tambang yang tak dapat diperbaharui lagi semakin berkurang dan yang biotik tidak diperkembangkan.
Apabila manusia mengurus dan mengelola alam lingkungan dan berbagai kekayaan yang tersedia ini dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, maka kebaikan itu akan dinikmati manusia secara awet dan lestari. Tetapi sebaliknya, apabila pengurusan alam ini tidak baik, boros dan serampangan, tidak adil dan tidak seimbang dalam melakukan eksplorasi melewati batas dalam memperlakukan alam lingkungannya, niscaya azab Allah dan malapetaka akan datang kepada manusia. Dan itu tidak lain akibat perbuatan tangan manusia itu sendiri.[4]
Pemanfaatan Sumber Daya Alam
Lingkungan hidup berupa sumber alam merupakan kekayaan yang disediakan untuk manusia, hendaklah manusia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
a.       Air
Air merupakan kebutuhan pokok manusia, sejak penggunaan yang paling kecil seperti untuk minum, masak, mencuci, dan lain-lain sampai pemanfaatan air untuk pertanian. Pembangunan waduk untuk pengairan dan pembangkit listrik. Air juga kebutuhan yang paling esensial bagi manusia maka Allah menyediakan air dimana-mana, hampir 4/5 permukaan bumi terisi air. Tanpa adanya air, manusia dan makhluk hidup lainnya tidak dapat berlangsung, bahkan segala yang hidup ini mulanya diciptakan Allah dari air.
Air laut yang asin dimanfaatkan oleh manusia untuk jalur transportasi antar pulau dan benua. Selain itu air laut dapat pula dibuat garam, tempat mencari ikan dan di dalamnya terkandung kekayaan alam baik yang sudah ditemukan manusia maupun yang masih terpendam sebagai harta karun.[5]
b.      Tanah
Penggunaan tanah untuk pertanian dimulai sejak cara yang paling sederhana hingga penggunaan mekanisasi pertanian yang modern. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan tanah memberikan hasil yang berlipat ganda, yaitu peningkatan produksi panen yang berasal dari tanah.
Kurang lebih 200 ayat dalam al-Qur’an yang menerangkan masalah botani (ilmu tumbuh-tumbuhan) yang menunjukkan pentingnya sektor tersebut. Botani sebagai ilmu yang berdiri sendiri berguna dalam kehidupan manusia, karena dengan pengetahuan itulah manusia dapat mengambil manfaat dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, keajaiban, keindahan, kehalusan tumbuh-tumbuhan itu mengundang manusia membuka mata hatinya dan berpikir, bahwa semua kejadian itu adalah dengan kekuasaan Allah Swt.
Tinggallah upaya manusia, sejauh mana aktivitasnya menggarap bumi dan mengolah tanah. Dalam hubungan ini Rasulullah Saw menandaskan : “Tiadalah seorang muslim bercorak tanam, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia ataupun hewan, melainkan kepadanya sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian tidak sepatutnya bumi dibiarkan terlantar, tidak dimanfaatkan melainkan perlu dimakmurkan untuk kesejahteraan manusia.[6]
c.       Hutan
Hutan berperan sebagai pelindung banjir, longsor, dan penyimpanan penyediaan air di pegunungan, kayu-kayu besar dan daun-daunnya yang rimbun serta akar-akar yang menjalar bersama-sama semak-semak di sekitarnya menampung air hujan yang selalu turun di pegunungan. Air tersebut menyerap ke dalam tanah dan di sela-sela rimba, kemudian muncul mata air yang tetap bening melalui kali dan terhimpun menjadi sungai.
Dari hutan juga dapat diperoleh bermacam-macam hasil untuk keperluan kehidupan, seperti rotan untuk alat-alat rumah tangga, kayu untuk bahan pembuat rumah, kursi, meja, bahan baku kertas, dan sebagainya. Kecuali itu hutan adalah tempat perlindungan bagi satwa dan beraneka jenis hewan.
d.      Pertambangan
Di lingkungan kita terdapat sumber kekayaan yang berada di dalam perut bumi dikenal sebagai bahan tambang. Bahan-bahan tambang itu sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Apabila kita telah sejumlah ayat al-Qur’an, disana kita dapati isyarat tentang adanya mineral dalam bumi yang dapat dikeluarkan melalui eksplorasi pertambangan, pada QS. 57:4 disebutkan:
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 57:4).
Ayat tersebut memberikan gambaran dan isyarat yang merangsang manusia untuk melakukan eksplorasi kekayaan alam. Bahwa apa yang masuk dalam bumi dan keluar dari padanya memberikan petunjuk adanya “sesuatu” yang tersimpan dalam perut bumi yang perlu diteliti dan dimanfaatkan manusia.[7]
Pencemaran Lingkungan
Polusi atau pencemaran adalah suatu keadaan dimana kondisi suatu habitat (tempat dimana makhluk hidup itu berada) tidak murni lagi, karena pengaruh terhadap habitat tersebut. Pencemaran lingkungan disebabkan oleh berbagai hal, terutama disebabkan perbuatan dan tingkah laku manusia yang tidak memperhatikan keserasian alam dan kelestariannya.[8]
Krisis lingkungan yang tengah terjadi sekarang ini adalah akibat kesalahan manusia menanggapi persoalan ekologinya, begitu menurut ahli sejarah, Lynn White Jr. apa yang dilakukan manusia terhadap lingkungan hidupnya bergantung pada apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dalam hubungannya dengan apa yang ada di sekitar mereka. Lebih tegas lagi dikatakannya, bahwa akar dari sumber krisis lingkungan manusia hari ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan tentang alam kita dan takdirnya yaitu oleh agama.[9]
Pencemaran lingkungan itu dapat berupa:
Pencemaran tanah
Pencemaran tanah disebabkan berbagai hal, seperti sampah-sampah plastik, kaleng-kaleng, rongsokan kendaraan yang sudah tua. Plastik tidak dapat hancur oleh proses pelapukan dan besi tua menimbulkan karat, sehingga tanah tidak dapat ditumbuhi tanaman.
Pemakaian pupuk yang terlalu banyak, tidak wajar dan tidak menurut aturan yang telah ditentukan bisa juga menyebabkan polusi tanah. Tanah pertanian menjadi kering dan keras, karena jumlah garam yang besar akan menyerap air tanah. Guna mencegah atau mengurangi polusi tanah ini maka pemakaian pupuk di daerah pertanian hendaklah menurut aturan yang telah ditentukan. Sampah-sampah pun harus dibuang di tempat pembuangan atau dibakar di tempat yang telah tersedia.[10]
Pencemaran udara
Pencemaran udara disebabkan bermacam-macam pula, bisa disebabkan asap keluar dari pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor dan bisa juga disebabkan hawa tubuh manusia atau pemukiman yang terlalu padat dan sesak. Makin besar jumlah penduduk, bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, makin banyak pula pabrik didirikan serta diproduksi mesin-mesin serta kendaraan bermotor untuk mencukupi kebutuhan penduduk, dan karenanya polusi udara semakin buruk.
Polusi udara dapat mengganggu pernapasan dan dapat menimbulkan penyakit pada alat-alat pernapasan, asma, bronkhitis, dan sebagainya. Hal itu disebabkan banyak gas yang membahayakan kesehatan bercampur dengan udara, seperti: gas karbon monoksida, dan partikel-partikel halus dari timah hitam, polusi udara juga bisa membahayakan lalu lintas, baik darat, laut maupun udara.
Pencemaran air
Pencemaran air dapat terjadi karena penggunaan zat-zat kimia yang berlebihan, seperti penggunaan DDT, endrin melebihi dosis yang telah ditentukan. Pencemaran itu dapat pula disebabkan bahan pencuci yang dibuang ke sungai. Yang sering tidak disadari ialah pembabatan hutan di pegunungan yang menyebabkan erosi tanah dan banjir berkepanjangan sehingga air yang semestinya bening menjadi keruh.[11]
Pencemaran suara
Suara juga bisa tercemar, karena berbagai akibat kegiatan manusia yang semakin berdesakan dan hiruk pikuk di pabrik dan pemukiman. Pencemaran suara terutama dirasakan di kota-kota yaitu adanya suara kendaraan bermotor, kapal terbang, pabrik-pabrik, pasar-pasar, dan sebagainya. Suara yang terlalu bising mengganggu ketenangan, dapat menimbulkan gangguan jasmaniah dan rohaniah, misalnya gangguan jantung, kelenjar pernapasan, gangguan saraf, perasaan gelisah dan sebagainya.[12]

Kesimpulan
Menelaah uraian-uraian di atas nyatalah bahwa lingkungan hidup yang telah tersedia ini diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia selaku salah satu komponen biotik dalam lingkungannya, manusia mempunyai kelebihan dari makhluk lain, yaitu akal dan budi. Dengan inilah manusia mempunyai kedudukan istimewa dalam lingkungannya. Dengan akal dan pikirannya, manusia banyak bertindak sehingga kebutuhan manusia lebih diutamakan dari kepentingan yang lain. Tetapi bagaimanapun manusia itu ada yang melestarikan dan ada yang merusak.

DAFTAR PUSTAKA
Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Bumi Aksara, Jakarta, 2000.
Fachruddin M. Mangunjaya, Konservasi Alam dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005.
Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan, Gajahmada University Press, Yogyakarta, 2002.
Amin Suyitno, dkk., Ilmu Alamiah Dasar, Wicaksana, Semarang, 2002.


[1] Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hlm. 196.
[2] Fachruddin M. Mangunjaya, Konservasi Alam dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005, hlm. 8.
[3] Kaelany HD, op.cit., hlm. 197-198.
[4] Fachruddin M. Mangunjaya, op.cit., hlm. 9-10.
[5] Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan, Gajahmada University Press, Yogyakarta, 2002, hlm. 36.
[6] Kaelany HD, op.cit., hlm. 198.
[7] Ibid., hlm. 202-203
[8] Ibid., hlm. 204.
[9] Fachruddin M. Mangunjaya, op.cit., hlm. 7.
[10] Kaelany HD, op.cit., hlm. 204.
[11] Amin Suyitno, Mujiasih, Walid, Ilmu Alamiah Dasar, Wicaksana, Semarang, 2002, hlm. 23-24.
[12] Kaelany HD, op.cit., hlm. 204
Share:

Featured post

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Faktor Keturunan ( hereditas ) Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartik...

Popular Posts

Pageviews

Powered by Blogger.